Trail Adventure With Offroad Motorcycle

Kamis, 25 Oktober 2007

dilema abu-abu atau delima ubi-ubi?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

[QS. 3:179] Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu'min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.

[QS. 9:105] Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

[QS. 11:123] Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.



Kita disuguhi dengan berbagai menu-menu ajaran ruhaniah yang sama sama menjanjikan kebahagiaan alias surga. Dan setiap kali kita hendak memilih dengan akal dan otak kita, kata-kata, gunakan hatimu, jiwamu dan perasaanmu dalam memilih, sering kali tersodor di hadapan kita. Masyarakat kota besar dimana pun yang ada di depan mata saya sedang menghadapi pilihan-pilihan dilematis, termasuk saya.

Masyarakat kota butuh teman yang bisa diajak berdiskusi dalam menentukan ajaran esoteris apa yang mestinya mereka jadikan pegangan dalam hidup. Kita harus melangkah, bergerak terus mendaki.

Dunia spiritualitas acapkali memiliki batasan yang kabur dalam menentukan mana yang hitam dan mana yang putih.

Acapkali warna abu-abu lebih menarik bagi para peminat ajaran esoteris daripada warna terang. Beberapa pengamal ajaran esoteriss berharap dapat melihat peristiwa-peristiwa ghaib, mengaku ngaku berjumpa dengan khidir dan Rasulullah, berjumpa dengan orang-orang besar yang telah berada di alam kubur, mampu menghilang serta menghilangkan syariat.

Dalam dunia spiritualitas seperti ini, batas antara setan dan Tuhan sangat tipis sekali. Jangan-jangan, sosok yang menyebut dirinya Tuhan dan kita temui dalam suatu laku tertentu seperti meditasi itu merupakan setan yang sedang menjelmakan dirinya sebagai Tuhan, karena laku meditasinya tidak mengubah dirinya dari akhlak mazmumah menuju akhlak mahmudah, dari tingkah laku yang tercela menuju tingkah laku yang terpuji.

Memang, siapa yang dapat memastikan bahwa suara yang kita dengar dalam kesendirian kita itu merupakan wahyu dari Allah. Apakah tidak mungkin itu merupakan bisik-bisik dari setan?

Tidak ada komentar: