Trail Adventure With Offroad Motorcycle

Selasa, 30 Oktober 2007

Islam & Politik

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Gerakan2 Islam yg ada sekarang masih beraneka ragam pemikiran & metodenya. Sebagian memandang bahwa proses tarbiyah (pendidikan) adalah solusi terbaik & segala2nya. Mereka menganggap bahwa keterlibatan gerakan dlm kancah politik sebagai aib yg harus dihindari. Orang2 seperti ini telah terperosok ke dlm kesalahan fatal yg seringkali menjerumuskannya kedalam jurang yg dalam, semakin jauh dari sasaran. Mereka menggambarkan bahwa aktivitas tarbiyah sebagai persoalan tersendiri, yg terpisah jauh dari realitas kehidupan. Cukuplah bila seseorang duduk diantara sesamanya dalam sebuah ruangan untuk menimba ilmu dari salah satu seorang guru, atau duduk menyendiri membaca buku yg bermanfaat. Jika kondisi memaksa mereka untuk bergumul dengan kehidupan, mereka berinteraksi bersamanya dengan kebodohan yg semakin parah. Hal ini biasanya menimpa gerakan2 yg menjauhkan dirinya dari politik & menganggap bahwa politik adalah sebagian dari perilaku setan yg tidak sepantasnya bagi orang beriman.

Dalam pemilihan umum misalnya, mereka memberikan suaranya untuk pemerintahan yg represif sebagai imbalan jasanya membiarkan mereka dengan penuh kebebasan duduk di majelis2 ilmu yg merupakan puncak perhatian mereka. Mereka tidak pernah berpikir sekalipun bahwa dengan perbuatan itu, berarti mereka hanya memperpanjang masa pemerintahan Zhalim (yg memproklamirkan diri sebagai pemerintahan sekuler & memusuhi Islam) dengan memberikan berbagai sarana kehidupan & keberlangsungan.

Tidak cukup dengan yang mereka lakukan itu, mereka memposisikan diri sebagai musuh pemikiran2 pihak lain. Mereka sematkan berbagai cacat & kekurangan kepadanya. Dalam anggapan mereka, pihak lain itu mengeksploitasi agama & menceburkan dirinya dalam politik, yg pada dasarnya tidak layak bagi seorang muslim yg berorientasi ketuhanan & ahli ibadah.

Apakah politik merupakan bagian fundamental amal islami, ataukah bid'ah & perbuatan setan?

atau sebenarnya politik itu... ?!

[kita saling bekerjasama dalam hal yang kita sepakati dan saling menghormati dalam hal yang kita perselisihkan]

Kamis, 25 Oktober 2007

dilema abu-abu atau delima ubi-ubi?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

[QS. 3:179] Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu'min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.

[QS. 9:105] Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

[QS. 11:123] Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.



Kita disuguhi dengan berbagai menu-menu ajaran ruhaniah yang sama sama menjanjikan kebahagiaan alias surga. Dan setiap kali kita hendak memilih dengan akal dan otak kita, kata-kata, gunakan hatimu, jiwamu dan perasaanmu dalam memilih, sering kali tersodor di hadapan kita. Masyarakat kota besar dimana pun yang ada di depan mata saya sedang menghadapi pilihan-pilihan dilematis, termasuk saya.

Masyarakat kota butuh teman yang bisa diajak berdiskusi dalam menentukan ajaran esoteris apa yang mestinya mereka jadikan pegangan dalam hidup. Kita harus melangkah, bergerak terus mendaki.

Dunia spiritualitas acapkali memiliki batasan yang kabur dalam menentukan mana yang hitam dan mana yang putih.

Acapkali warna abu-abu lebih menarik bagi para peminat ajaran esoteris daripada warna terang. Beberapa pengamal ajaran esoteriss berharap dapat melihat peristiwa-peristiwa ghaib, mengaku ngaku berjumpa dengan khidir dan Rasulullah, berjumpa dengan orang-orang besar yang telah berada di alam kubur, mampu menghilang serta menghilangkan syariat.

Dalam dunia spiritualitas seperti ini, batas antara setan dan Tuhan sangat tipis sekali. Jangan-jangan, sosok yang menyebut dirinya Tuhan dan kita temui dalam suatu laku tertentu seperti meditasi itu merupakan setan yang sedang menjelmakan dirinya sebagai Tuhan, karena laku meditasinya tidak mengubah dirinya dari akhlak mazmumah menuju akhlak mahmudah, dari tingkah laku yang tercela menuju tingkah laku yang terpuji.

Memang, siapa yang dapat memastikan bahwa suara yang kita dengar dalam kesendirian kita itu merupakan wahyu dari Allah. Apakah tidak mungkin itu merupakan bisik-bisik dari setan?

Selasa, 23 Oktober 2007

Islam mengajarkan 'membunuh'?

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Taubah [9]: 123).

1.Kenapa kita harus memerangi orang2 kafir di surat At Taubah : 123?
2.Terus, gimana posisi non-muslim? Apa harus kita perangi juga teman2 kita yg non-muslim? Lagipula mereka ‘ngga nyari masalah sama kita.
3.Apakah Islam diajarkan berperang/membunuh?

Jujur, helmi kaget aja denger pertanyaan2nya, apalagi pertanyaan keluar dari temen ter-dekat helmi. Tapi helmi bersyukur, pertanyaannya bikin introspeksi diri juga. helmi orang islam tapi sering nglupain ajaran Islam. Pantes aja ada yg bilang “ada orang Islam teriak kafir padahal dianya sendiri kafir”. Mudah2an helmi dan yg baca tulisan ini tidak termasuk orang2 kafir, amin.

Jadi sebenernya apa definisi orang kafir? (helmi jg jadi bingung)

helmi coba buka fikiran sekedar berbagi, dengan harapan banyak bantahan2, kritik, interupsi, hujatan bahkan lemparan batu.

helmi mulai:
Dalam pandangan syariat Islam, non muslim itu bisa diklasifikasikan menjadi dua macem. Yaitu kafir harbi (ahlul harb) dan kafir zimmi (ahlu zimmah).

Kafir harbi adalah orang-orang kafir yang sedang terlibat pertempuran berdarah dengan muslimin. Darah mereka halal ditumpahkan sebagaimana mereka pun punya hak untuk membunuh muslimin. Hubungan antara ahlul harb dengan muslimin memang hubungan bunuh membunuh di dalam wilayah konflik. (contoh: Palestina – Israel, dll)

Selain ahlul harb, semua non muslim adalah zimmy atau ahlu zimmah. Kata zimmi berasal dari kata zimmah, yang bermakna aman atau janji. Ahlu zimmah berarti orang kafir yang mendapatkan keamanan dari pihak muslim. Juga dipahami sebagai orang yang telah mendapatkan janji dari umat Islam atas keamanan dirinya. (contoh: helmi – temen2 helmi yg non muslim, tetep pren, brader, sobat)

Makanya, haram hukumnya bagi muslimin buat ngganggu kafir zimmi, nyakitin, ngzalimin ato ngurangin hak-haknya. Apalagi sampe membunuh mereka. Tentunya sebuah perbuatan yang udah diharamkan secara mutlak dalam syariat Islam.

Allah nyuruhnya kita selalu berfikir ttg ciptaan Allah & segala sesuatu didalamnya. Cuman ttg kekafiran itu kita masih buta, cuman berfikir scara tekstual. Sehingga keimanan kita Cuman sampe titik dasar, belum nyampe titik dimana kita mestinya sanggup buat mencapai peningkatan keimanan yang selalu dicontohkan oleh rasul dan para sahabat yang setia ngikutin beliau. Mari kita liat apa sebenarnya kekafiran yang harus kita hindari ketimbang berperang ataupun memusuhi orang orang diluar islam dengan alasan jihad.

Sebagaimana sabda nabi bahwa jihad terbesar itu adalah berperang melawan hawa nafsu kita sendiri. dari hadits tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa kekafiran dalam diri kita jauh lebih berbahaya dari kekafiran yang dilakukan oleh orang orang2 diluar islam. Kekafiran dalam diri kita berbentuk hawa nafsu berwujud amarah,dengki,iri hati,sombong,ujub,merasa paling benar,dll. Hanya saja kita sering terjebak sesuatu dimana kita tak pernah sadar bahwa sesuatu tersebut telah menjerumuskan kita kepada bentuk kekafiran, kemunafikan dan kemaksiatan. (ya Allah, maafin helmi)

Kebiasaan yang dibawa oleh nenek moyang kita yang sekedar ngikut tanpa tahu alasan apa yang mendasari setiap apa yang diperbuatannya. Terus diturunkan kepada kita tanpa filter dan tanpa penalaran logika kita, dan selama itu pula banyak orang islam yang terjerembab dalam jurang kemusyrikan dan berada dalam kesesatan yang tak pernah mereka sadari. (ya Allah, maafin helmi)

Kafir saat itu adalah orang yang memusuhi secara terang terangan memusuhi agama tauhid yaitu islam. Islam tidak pernah mengajarkan untuk berperang melawan atau membunuh orang orang kafir akan tetapi untuk memerangi sifat kekafiran dalam diri manusia yang berupa sifat tercela. Jadi, jelas bahwa jika kekafiran diri lebih berbahaya ketimbang orang orang kafir diluar islam, karena kita dihancurkan oleh diri kita sendiri. (ya Allah ampuni helmi)

Balik ke pertanyaan paling atas:
1.Apa kita harus memerangi orang kafir?
JWB: harus. tapi kafir yang mana dulu. Jelas di surat At Taubah : 123 kondisinya sedang berperang dg orang kafir harbi. Islam menganjurkan umatnya untuk memerangi non muslim yang memerangi umat Islam (baca: kafir harbi)
2.Terus, gimana posisi non-muslim? Apa harus kita perangi juga teman2 kita yg non-muslim? Lagipula mereka ‘ngga nyari masalah sama kita.
JWB: jelas
3.Apakah Islam diajarkan berperang/membunuh?
JWB: Islam melarang memerangi, membunuh orang non muslim yang tidak memerangi kita. (buka al-Qur’an : 4:90; 8:61; 45:14; 5:32; 9:7), Islam mengajarkan agar berlaku baik terhadap non muslim (60:8-9).

Tulisan ini sebagai introspeksi diri helmi sbagai orang Islam yg sering lupa diri, sedikit ilmu agamanya sendiri, suka bingung dg agamanya sendiri. Tp helmi tetep yakin.

Wallahu a‘lam bis-shawab.
Kebenaran itu datangnya dari Allah, dan kesalahan itu datangnya dari diri helmi sendiri.

bersambung...